Selasa, 17 Januari 2017

Antara Mbah Google dan Inquiry

Merdeka!
Di HUT RI 69 ini saya mau nulis rada serius meski sedikit nostalgia. Cerita tentang  pendidikan siapa tau bisa jadi masukan anda2 yg bergelar "digugu lan ditiru".  Atau para ortu yg setia mendampingi anaknya belajar.

Suatu hari guru IPS kls 3 SMP saya kasih PR ke kami begini, "Setelah belajar tentang negara2 Asean Bapak tugaskan kalian mencari siapa nama Sekjen Asean sekarang?". Sekjen Asean??. Kami celingukan.
Apa kabar Asean? Juga KTT Non Blok atau OKI? Di abad 21 sekarang nama2 itu bagai hilang ditelan ombak.

Tapi taruhan, kalau  soal itu dilempar ke anak2 jaman sekarang anak kelas 5 SD saja dalam hitungan tak kurang 5 menit dg asumsi modemnya nggak lemot krn susah sinyal mereka pasti sudah nyebut. Caranya? Apalagi kalau bukan tanya Mbah Google. Simbah andalannya yg sepertinya lebih pinter dari  enyak babenya meski mereka bergelar doktor sekalipun.  Emang enak sih jadi anak2 jaman sekarang. Informasi nyebar di mana2. Gampang dipungut. Asal mungut yang baek-baek sih nggak papa ya.

Nah pasti pada pengen tahu kan apa yg kami lakukan saat dikasih PR pada waktu th ajaran 1989/1990 itu?. Ini PR jamaah sebenarnya dan kritisnya 40an penduduk kelas memang nggak ada yg tahu termasuk saya!, padahal saya masuk 10 besar lho! (Izzzz info nggak penting banget. 10 besar nggak laku di era multi kecerdasan sekarang, bro!).
Tapi yg namanya tugas dari guru,  kami sih sendhiko dhawuh aja dong. 
Padahal kalo dipikir iseng,  buat apa sih kenal sekjen Asean emang kalo udah kenal mau ngapain? Maen kerumahnya?.

Tapi beneran gara2 cara yg kami lakukan saat nyari itu,  nama Rusli Noor sbg sekjen Asean periode 1989-1993 nyangkut terus di kepala saya sampe sekarang. Rupanya data itu tersimpan di otak kanan saya dg aman dan nyaman.

Oh ternyata begini ya anak2 jadul kalo nyari informasi, di saat mbah google atau Om Wiki belum lahir mungkin masih di alam ruh, mari kita kenang bersama mudah2an mirip dg pengalaman anda.

Cara konvensional kami yg pertama saat itu biasa, cari info di koran. Pelototin kolom demi kolom. Telusuri satu-satu.  Ndak ketemu. Ke perpus hasilnya nihil. Mungkin ada di  Buku Pintarnya Iwan Gayo yg jadi buku primbon pengayaan saat itu, tapi berhubung saat itu tuh buku masuk kategori barang mewah jadi saya pun gak kuat beli. Nggak mungkin kan ke toko buku cuma buat ngintip Sekjen Asean tapi nggak beli?

Kedua, nanya2 sama orang yg dianggap meyakinkan misalnya saya nanya ke bapak saya yg kebetulan guru IPS juga tapi lain sekolah. Kayaknya beliau 'pura2' nggak tahu.

Ketiga, nongkrong didepan TV hitam putih. TV kebanggaan keluarga. Sasarannya adalah Dunia Dalam Berita (DDB) TVRI. Itu sosok pun nggak pernah diberitakan. Lewat.

Nah cara keempat, entah dari mana idenya, yg pasti bukan saya penyumbang ide,  karena waktu sudah mendesak kami  sekelas dg naik sepeda masing2 pergi ke kantor dinas penerangan sekitar 500 m dari sekolah. Dinas penerangan ini dulu di bawah Departemen Penerangan yg menterinya sangat kesohor saat itu siapa lagi kalo bukan Harmoko yg akrab dg tagline "menurut petunjuk Bapak Presiden".

Nah dari situlah setelah tanya-tanya dg 'narasumber' kami baru tahu siapa itu Sekjen Asean yg jadi incaran selama sepekan.

Kesimpulannya begini , kalo ukurannya efesien jelas anak2 jaman sekarang jawaranya. Tinggal klik, bungkus tuh data.  Cepet.  Nggak usah muter-muter. Nggak pake beli koran apalagi nongkrongin DDB. Jujur kami lebih demen nonton Aneka Ria Safari  yg hostnya Eddy Sud ketimbang DDB. 
Nah tapi... kalo ukuran proses pencarian data dan tambahan info2 lain termasuk efektivitas tujuan belajar sebenarnya maka mungkin (ini mungkin lho) generasi kamilah bisa dibilang pemenangnya.  Pede amat, he..he.

Gara2 Sekjen Asean paling nggak kami dpt added value tahu tentang kantor penerangan, lokasinya, fungsi dan tugas Departemen Penerangan. Ternyata tugasnya nggak sekedar nyiarin Sidang Terbatas Bidang Ekuin, acaranya Harmoko yg nyita waktu banget saat itu apalagi kalo pas mlm minggu dimana org2 sdh nungguin Film Cerita Akhir Pekan. Cckk..inget aja.
Lainnya siswa juga jadi paham kalo pimpinan Asean itu disebutnya Sekjen bukan Ketua. Nah Sekjen Asean yg baru dilantik, Rusli Noor itu berasal dr Indonesia (mungkin guru sy mau nunjukin kebanggaannya bhwa Asean dipegang oleh anak bgsa yg sejak th 1978 berturut2 dipegang negara lain). Setelah beliau selesai tugas hingga sekarang 2014 Asean juga dipegang oleh tokoh dr negara lain.

Upaya itu belum ditambah bonus sosial lainnya: keakraban antar teman, kekompakan dlm mencari info,  kesetiakawanan.
Tak bermaksud membandingkan ya tapi itulah bedanya anak2 dulu dg anak sekarang.

Sebagai obyek 'penderita' alias sasaran belajar, dulu saya nggak tahu itu adalah salah satu cara guru kami menerapkan metode mengajarnya tapi setelah skrg bekerja di dapur dunia pendidikan barulah sy ngeh bahwa metode belajar dg cara mencari dan menemukan jawaban sendiri itulah yg dinamakan inquiry. Kalau di IPA biasanya inquiry dilengkapi dg eksperimen atau uji coba.

Menurut psikolog pendidikan Piaget (bacanya Piace), pengetahuan itu dpt bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Dengannya siswa terlatih untuk berpikir secara konstruktif.

Jauh berabad yg lalu ketika dunia keilmuwan disibukkan dg teka teki pencarian bilangan nol yg mengartikan konsep tanpa kuantitas atau lambang placeholder/penanda posisi angka (ratusan, ribuan dst), tak kurang sesosok Al Khawarizmi matematikawan Muslim di Baghdad dg ketekunannya secara inquiry mempelajari dan mengembangkan konsep angka nol milik Braghmagupta dari India yg sebelumnya dibawa para pedagang Arab.  Hingga pada abad 9 ia mampu menemukan persamaan Aljabar  yg sangat terkenal.  Bahkan Algoritma penemuanya yg lain menjadi  referensi Fibbonacci matematikawan Eropa pada abad 12 yg memperkenalkan Buku Abacus/sempoa. Angka Nol juga menginspirasi Rene Descartes yg memperkenalkan koordinat Cartesian (0,0). Dunia harusnya berterima kasih atas penemuan Angka Nol  dg simbol seperti skrg dari ilmuwan2 Islam pengkaji pengetahuan dari sebuah Perpus tua Baitul Hikmah di masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah pada Abad 8-9.

Sekarang pemerintah tengah menggalakan sebuah kurikulum baru yakni kurikulum 2013 yg kerap disingkat K13 atau kurtilas. Metode inquiry yg kemudian dipertajam dg sebutan discovery learning menjadi salah satu metode andalan K13 yg menggunakan pendekatan saintifik dlm implementasinya. Anak2 kita di sekolah dilatih utk mengamati, bertanya, mengumpulkan data, menghubungkan dan membuat kesimpulan utk mendapatkan pengetahuan baru. Sudah nggak jaman lagi mereka disuruh menghafal seabreg rumus atau lainnya.

Menghafal tulisan atau simbol angka yakin deh takkan bertahan lama karena keduanya hanya disimpan dlm memory otak kiri, tapi kalau pengen anak kita hafal dlm jangka waktu lama ubah lah informasi dlm bentuk cerita, gambar, kreativitas yg bergerak dsb agar bisa tersimpan di otak kanan secara permanen. Contohnya kisah Sekjen Asean di atas saya juga heran bisa2 nya cerita itu nempel di otak saya hingga 25 tahun lamanya?. Dan latihlah dg  cara2 inquiry, biarkan mereka mencari sendiri jawabannya dan tugas kita mengarahkan atau memberi clue2 saja jika diperlukan.

Belajar memang harus dlm suasana menyenangkan. Anak saya bisa tahu abjad dan huruf hijaiyah karena  mengenalnya dlm bentuk nyanyian. Sambil bertepuk tangan mereka mengucapkan satu persatu. Dan jika diulang terus2an hanya dlm jangka waktu seminggu mereka hafal sendirinya dan kemudia mencari tahu sendiri mana yg disebut huruf A mana huruf hijaiyah Ba dst.

Khusus untuk Mbah Google tentu saja ini penemuan mutakhir di era internet. Kita akui dan syukuri peranannya begitu mempermudah cara kita mndptkan informasi. Namun buat para siswa hendaknya tak dijadikan sumber kebergantungan krn bagaimanapun sumber2 ilmu yg bersifat kontekstual lebih mudah utk dimengerti dan dipelajari. Saya pribadi matur nuwun banget sama Simbah, gara2 dia saya pun tahu wajah Sekjen Asean yg jadi PR saya 25th yg lalu dan baru sempat saya cari skrg ini lewat bantuannya (foto terlampir).

Ayo ajak anak2 kita belajar untuk mencari pengetahuan baru dan mampu menghubungkan dg informasi2 baru lainnya Insya Allah kita pasti ketemu pada satu titik. Maha Suci Allah sebagai sumber ilmu. Itu tujuan menuntut ilmu sesungguhnya, mendekatkan manusia kepadaNya.

Tidak ada komentar: